Tren Mobil China di Indonesia

Tren Mobil China di Indonesia
Tidak ubahnya produk-produk China lainnya yang terkenal murah dan banyak beredar di pasaran, mobil China pun masih dianggap tidak berkualitas karena harganya yang miring. Meski demikian, stigma negatif tersebut tidak menghentikan produsen mobil China untuk terus melakukan ekspansi di dunia internasional, khususnya Indonesia. Bahkan waktu demi waktu, mobil buatan China yang dibanderol harga miring pun perlahan tunjukkan kualitasnya yang tidak murahan.
 
Beberapa tahun belakangan, pabrikan mobil asal China terlihat serius menggarap pasar otomotif Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh PT. Sokonindo Automobile (DFSK) dan Wuling Motors, keduanya tidak main-main dalam menghadirkan mobil China murah. Keseriusan ini dibuktikan dengan membuat pabrik perakitan mobil di Indonesia. Dengan berbekal amunisi tersebut, DFSK dan Wuling Motors siap bersaing dengan pabrikan mobil-mobil Jepang di tanah air. Lantas, bagaimana sih tren mobil China di Indonesia saat ini? Yuk, perhatikan poin-poin berikut untuk tahu lebih dalam lagi!
 
Menentang Dominasi Mobil Jepang di Segmen Laris
Strategi penetrasi pabrikan China di dunia otomotif tanah air terbilang cukup strategis. Mereka membidik segmen mobil-mobil yang tengah naik daun di Indonesia seperti low multi purpose vehicle (LMPV), multi purpose vehicle (MPV) dan sport utility vehicle (SUV). Beberapa tahun belakangan ini, ketiga segmen tersebut bisa dibilang sebagai segmen terlaris di Indonesia.
 
DFSK baru-baru ini merilis SUV andalan mereka, Glory 580, sebagai ujung tombak untuk menggaet pecinta mobil-mobil berkesan gagah. Keunggulannya, seabrek fitur canggih dan terkini namun harga tetap ramah di kantong. Glory 580 digadang-gadang menjadi pesaing Honda CR-V yang lebih dulu akrab di telinga masyarakat.
 
Selain SUV, DFSK juga sudah terlebih dahulu merilis mobil pikap untuk segmen bisnis di tahun 2017. Dengan nama SDFSK Super Cab, pikap baru ini hadir dengan bak yang lebih lebar dari kebanyakan pikap dari pabrikan Jepang. Ditawarkan dengan 2 pilihan mesin diesel dan bensin, pikap ini juga punya interior yang tergolong mewah untuk kelas pikap.
 
Pabrikan mobil China satu lagi, Wuling Motors, menghadirkan Confero di segmen LMVP dan Cortez di segmen MPV. Segmen berbeda dari DFSK yang dibidik Wuling ini adalah kelas mobil sejuta umat yang disukai oleh kebanyakan konsumen keluarga. Confero dihadapkan langsung dengan Toyota Avanza, sementara Cortez didaulat untuk menantang Toyota Innova!
 
Kembali ke DFSK, tidak merilis MPV di Indonesia bukan berarti pabrikan China ini tidak punya mobil untuk segmen tersebut. Sebenarnya DFSK juga punya mobil MPV, yaitu Glory 360 dan Glory 330 yang sudah dipasarkan di China, namun untuk saat ini belum diproduksi dan dipasarkan di tanah air. Meski begitu, Anda bisa mengintip seperti apa sih Glory 360 dan Glory 330 ini! Pasalnya, manajemen DFSK memang membawa mobil ini dari China untuk keperluan operasional mereka.
 
Melawan Stigma Mobil China Kurang Berkualitas
Sudah bukan rahasia jika mobil China murah yang sebelum-sebelumnya beredar di Indonesia dianggap kurang berkualitas. Banyak pabrikan China yang mendatangkan mobil langsung dari China tanpa memperhitungkan aftersales-nya. Akibatnya, saat mobil ada masalah, konsumen kebingungan harus bagaimana karena tidak ada servis resminya. Konsumen banyak yang terlantar, sakit hati, dan menganggap mobil China jelek.
 
Masih segar di ingatan pecinta otomotif bagaimana debut Geely Panda yang menjadi debut mobil China di industri otomotif Indonesia. Di tahun 2009, berbekal prestasi sukses mengakuisisi Volvo dari Ford, Geely merakit Geely Panda di tanah air lewat kerja sama dengan PT Astra Internasional Tbk., Geely tidak punya pabrik sendiri. Hasilnya, mobil yang dipasarkan terkesan dipaksakan dan tidak sesuai dengan standar kualitas konsumen otomotif dalam negeri yang terkenal ketat. Meski sempat sedikit populer, akhirnya Geely ‘tutup warung’ sekitar tahun 2012-2013, dan kini hanya menjual stok yang belum laku saja.
 
Tidak jauh beda dengan produsen asal China lain, Chery, yang membawa Chery QQ pada tahun 2011. Meski telah bergabung dengan Indomobil Group, tetap saja hasilnya nihil dan tutup usia setelah lewat tahun 2012. Lewat sejarah ini, konsumen Indonesia melihat jika mobil China saat itu belum berkualitas dan belum layak untuk dimiliki.
 
Demi melawan stigma negatif tersebut, Alexander Barus selaku CO-CEO PT Sokonindo Automobile menjamin bahwa DFSK tidak seperti itu. Hal ini mereka buktikan dengan menyediakan aftersales yang kuat lewat jaringan penjualan dan servis di seluruh Indonesia. Dalam waktu dekat, mereka menargetkan untuk memiliki 80 diler di Indonesia.
 
Tidak main-main, pabrik DFSK pun sudah dilengkapi dengan teknologi bertenaga robot yang menjamin presisi dalam menyajikan kualitas mobil. Sangat jauh dari mobil-mobil merek China dulu yang masih manual. Pihak DFSK pun optimis jika mereka bakal mampu merebut hati konsumen otomotif Indonesia. Alex sendiri mengatakan jika mereka punya target bahwa pada akhir tahun ini, 15.000 unit Glory 580 bisa terjual.
 
Lampaui Penjualan Mobil Eropa
Optimisme DFSK untuk menjual 15.000 unit hingga akhir tahun nanti bukannya tanpa dasar. Jika dilihat rekap penjualan mobil di Indonesia tahun 2017 lalu, terlihat jelas bahwa mobil China mulai diperhitungkan dengan menyabet posisi kedua unit terjual terbanyak setelah mobil Jepang. Dengan penjualan 5.418 unit, mobil China memaksa mobil Jerman berada satu tingkat di bawahnya dengan penjualan 5,417 unit, hanya selisih 1 unit saja.
 
Meski selisihnya tipis, namun fakta bahwa mobil Jerman yang selama ini dielu-elukan karena kualitas dan popularitasnya yang sudah melegenda bertahun-tahun lalu harus tunduk pada mobil China ini tidak bisa dipandang remeh. Ini jadi bukti bahwa mobil China sudah tidak main-main lagi di industri otomotif Indonesia.
 
Kembalikan Kepercayaan Konsumen
Walaupun sempat mengalami pasang-surut penjualan pada dekade ini karena sistem hit-and-run pabrikan China, nampaknya konsumen mulai percaya lagi karena mobil-mobil China seperti DFSK dan Wuling terlihat serius dan punya pabrik di tanah air. Dulu, orang malas membeli mobil China karena tidak ada jaminan apapun setelah mobil dibeli. Begitu mobil sampai di tangan konsumen lalu mengalami masalah, konsumen kesulitan mencari solusinya lantaran kebanyakan mobil China dulu diimpor dan tidak ada aftersales yang baik.
 
Upaya mengembalikan kepercayaan ini bukan hanya dilakukan lewat perang melawan stigma negatif mobil China dengan membangun pabrik dan investasi besar di Indonesia seperti yang disebut sebelumnya, namun juga dengan memberikan garansi yang lebih baik dari yang diberikan oleh pabrikan mobil Jepang di industri otomotif kita. Dengan demikian, konsumen tidak perlu lagi khawatir ketika hendak membeli mobil China.
 
DFSK punya strategi jitu untuk mengembalikan kepercayaan konsumen ini. Pertama, setiap konsumen yang membeli produk DFSK akan mendapatkan garansi selama 7 tahun atau 150.000 Km! Garansi ini jauh lebih panjang dari garansi umumnya yang diberikan oleh pabrikan mobil Jepang yang hanya 3 tahun atau 5 tahun—ini pun hanya segelintir saja. DFSK berani memberikan jaminan ini karena mereka percaya diri dengan kualitas produk yang mereka miliki, jadi benar-benar membuat konsumen worry free!
 
DFSK menyebut garansi mereka sebagai Super Warranty alias Garansi Super karena selain punya masa garansi yang panjang, juga punya cakupan yang luas dan bisa berpindah tangan. DFSK mengklaim bahwa Super Warranty ini adalah standar garansi tertinggi karena mencakup seluruh bagian kendaraan dan mesin. Komponen heavy-duty bernilai tinggi, AC, radiator, evaporator, ECU, hingga sistem kemudi EPS dan masih banyak lainnya telah tercover garansi ini. Menariknya lagi, Super Warranty ini bisa dipindahtangankan jika mobil dijual ke orang lain selama masa garansi. Sehingga, garansi masih berlanjut ke pemilik barunya!
 
Selain garansi panjang tersebut, Alex menjamin bahwa DFSK bakal serius menangani layanan after sales mereka lewat penyediaan spare part yang tidak putus, layanan servis dan maintenance yang selalu tersedia, dan customer service yang merespon dengan cepat setiap keluhan pelanggan. Semua hal tersebut dimungkinkan dengan adanya pabrik sendiri di Indonesia, lengkap dengan sales center-nya di berbagai kota di tanah air.
 
DFSK melakukan semua ini untuk mengembalikan kepercayaan konsumen terhadap produk otomotif dari China. Tidak hanya itu saja, kabarnya DFSK juga terus mempersiapkan ekspansi bisnisnya. Tidak puas hanya dengan pabrik perakitan (assembly), tapi juga kedepannya mereka berencana untuk membangun engine plant juga di Indonesia!
 
Bertabur Fitur: Modal Lain Penetrasi Mobil China di Tanah Air
Di balik harga murah dan kesiapan produsen untuk menjaga kualitas produksi mobil China sebagai modal melawan stigma negatif selama ini, fitur-fitur yang tersedia pada produk-produk DFSK dan Wuling juga benar-benar menarik perhatian para pecinta otomotif. Pasalnya, fitur-fitur canggih dan tergolong anyar yang biasa ada di mobil premium dibenamkan pada produk-produk kedua pabrikan China tersebut.
 
  • DFSK Glory
Sebut saja DFSK Glory 580 yang terjun ke pasar SUV 7-seater untuk menantang Honda CR-V. Varian Standar mobil ini saja sudah dilengkapi Sunroof, Electronic Brake Assist, Electronic Parking Brake, serta Dual Front Airbags plus Side Airbags. Sudah pula dilengkapi GPS, Parking Camera, Reverse Radar, dan fitur hiburan lewat layar sentuh di dashboardnya. Sementara untuk varian Premiumnya, ada penambahan fitur Time Pressure Monitoring System, Vehicle Running Order, dan Jam Protection Window. Selain itu juga sudah menggunakan smart-entry system key dengan tombol start-stop untuk mesin, cruise control, hingga pemanas untuk spion. Layar LCD pun lebih besar dan full-touch!
 
  • Fitur Wuling Cortez
Demikian pula dengan produk-produk Wuling yaitu Cortez. Mobil ini dipersiapkan untuk menantang jawara-jawara MPV. Coba saja tilik Wuling Cortez yang dilengkapi sunroof, Traction Control System, fungsi audio dengan bluetooth untuk panggilan telepon, serta sistem parking camera yang punya garis bantu di layar, sehingga memudahkan posisi saat parkir. Adanya layar LCD 8 inci sudah cukup luas untuk sistem parkir ini.
 
  • Wuling Confero
Selain hadir dengan fitur-fitur yang tidak jauh beda dengan yang dimiliki Cortez, Wuling Confero punya beberapa fitur lain yang jarang ditemui di mobil sejenis. Lihat saja keberadaan Jok Captain Seat yang ada di baris kedua. Selain itu ada pula rem cakram belakang yang sulit ditemukan pada mobil seharga Rp 200 jutaan. Dan terakhir, ada Tyre Pressure Monitoring System untuk mengecek tekanan angin ban lewat dashboard mobil.
 
Nah, kalau mobil-mobil China hadir semenarik ini, siapa sih yang tidak ingin coba?


Sumber:
otomotif.kompas.com/read/2018/05/08/092300015/sokonindo-ingin-hapus-stigma-buruk-merek-china-di-indonesia
otodriver.com/article/view/dfsk-jadi-menjual-mpv-di-indonesia-ini-jawabannya/O2_c1KIKJ2144cHuF-Kd1pxGYyLNsZ23C8YYHRljJC0
otomotif.kompas.com/read/2018/01/26/100200515/penjualan-mobil-china-di-indonesia-sudah-lampaui-jerman
liputan6.com/otomotif/read/3495510/cara-produsen-otomotif-tiongkok-kembalikan-kepercayaan-konsumen-indonesia
suara.com/otomotif/2017/12/23/093415/2018-bertaburan-mobil-cina-baru-dengan-banyak-fitur-dan-murah
cnnindonesia.com/teknologi/20180219175331-385-277240/kuda-hitam-mobil-china
otosia.com/berita/sepak-terjang-berbagai-mobil-merek-china-di-indonesia.html
viva.co.id/otomotif/mobil/982589-mobil-china-kualitasnya-dipertanyakan-ini-kata-bos-sokon
Diakses pada: 27 Juni 2018
Share :